Terjemahkan

Jumat, 28 Maret 2014

FENOMENA UGB & SISTEM KESEHATAN

Berita yang cukup menghebohkan pada akhir-akhir ini adalah apa yang terjadi dengan praktek ‘jasa pengobatan’ yang dilakukan oleh seseorang dengan paraf ‘UGB’, yang masalah utamanya adalah ‘kekecewaan’ para pengguna/penerima jasa pelayanan yang ‘merasa’ tertipu/dibohongi oleh UGB. Namun saya yakin kasus UGB hanyalah salah satu dari sekian banyak kasus serupa yang terjadi setiap harinya di masyarakat. Dewasa ini di Indonesia telah berkembang secara pesatnya praktik-praktik yang menawarkan berbagai ‘jasa pengobatan’ dengan berbagai macam cara, apakah itu dapat dipertanggung jawabkan secara medis atau tidak. Praktik-praktik semacam ini ternyata mendapat sambutan di masyarakat dengan jumlah antrian yang terlihat luar biasa yang telah dimulai sejak dinihari. Antrian tersebut bahkan telah jauh mengungguli antrian yang ada di tempat praktik-praktik dokter spesialis sekalipun.

Di kota Medan, praktik-praktik seperti itu sudah berkembang dengan pesatnya sejak 5-10 tahun belakangan ini, dan pada beberapa waktu lalu muncul keinginan untuk melakukan ‘penyelidikan’ secara acak sederhana terhadap 3(tiga) pertanyaan yang muncul di dalam fikiran saya, yaitu: siapa yang memanfaatkan jasa tersebut; dari mana asal mereka dan berapa tarif yang harus mereka bayar untuk memperoleh jasa tersebut.

Namun pada kesempatan ini saya mencoba untuk menguraikan apa yang menjadi penyebab dari munculnya ‘gejala’ tersebut dengan mengaitkannya kepada sistem kesehatan, karena yang menjadi tujuan dari kedua belah pihak (masyarakat dan penyedia pelayanan) dengan melakukan upaya tersebut adalah untuk memperoleh ‘kesehatan’ yang memang menjadi dambaan semua orang.

Dari hasil beberapa wawancara yang saya lakukan dengan beberapa anggota masyarakat yang sudah menggunakan ‘jasa pelayanan’ tersebut diperoleh informasi bahwa ada 3(tiga) hal utama yang merupakan unsur ketertarikan masyarakat, yaitu: informasi tentang penyakit yang segera mereka peroleh dan cara pengobatannya; munculnya keyakinan di dalam hati mereka bahwa ‘cara pengobatan’ tersebut akan berhasil menyembuhkan penyakit yang sedang diderita, dan biaya yang dibebankan selalu terjangkau, ‘tidak mahal’ dan terkadang gratis; di sisi lain mereka mengeluhkan tentang mahalnya biaya yang harus mereka tanggung apabila mereka pergi berobat ke praktik dokter atau ke rumah sakit, disamping itu mereka tidak memperoleh informasi yang jelas tentang penyakit mereka dan akhirnya mereka merasa bahwa setelah sekian lamanya berobat, penyakit mereka tidak juga kunjung sembuh.

Kesimpulan yang dapat saya peroleh dari kondisi dan situasi tersebut di atas adalah ternyata bahwa munculnya gejala ‘pencarian cara pengobatan lain sebagai alternatif’ bagi penyembuhan penyakit yang sedang diderita masyarakat adalah oleh sebab gagalnya mereka memperoleh ‘pelayanan kesehatan’ yang benar-benar menjadikan mereka ‘sehat’, atau dengan kata lain adalah oleh sebab ‘gagalnya sistem kesehatan’ dalam hal memenuhi kebutuhan masyarakat akan sehat.

Perlu dicatat, diingat dan dipahami bahwa definisi ‘sehat’ menurut Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) adalah ‘keadaan sehat yang meliputi jasmani, rohani dan ekonomi’, jadi tidak ada manfaatnya sama sekali apabila setelah berobat, masyarakat menjadi miskin oleh karena biaya pengobatan yang tinggi, sehingga ‘menjadi sakitlah’ ekonomi dan rohaninya?

Wallahu ‘alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.