FENOMENA UGB & SISTEM KESEHATAN
Berita yang cukup menghebohkan pada
akhir-akhir ini adalah apa yang terjadi dengan praktek ‘jasa pengobatan’ yang
dilakukan oleh seseorang dengan paraf ‘UGB’, yang masalah utamanya adalah ‘kekecewaan’
para pengguna/penerima jasa pelayanan yang ‘merasa’ tertipu/dibohongi oleh UGB.
Namun saya yakin kasus UGB hanyalah salah satu dari sekian banyak kasus serupa
yang terjadi setiap harinya di masyarakat. Dewasa ini di Indonesia telah
berkembang secara pesatnya praktik-praktik yang menawarkan berbagai ‘jasa pengobatan’
dengan berbagai macam cara, apakah itu dapat dipertanggung jawabkan secara medis
atau tidak. Praktik-praktik semacam ini ternyata mendapat sambutan di
masyarakat dengan jumlah antrian yang terlihat luar biasa yang telah dimulai
sejak dinihari. Antrian tersebut bahkan telah jauh mengungguli antrian yang ada
di tempat praktik-praktik dokter spesialis sekalipun.
Di kota Medan, praktik-praktik
seperti itu sudah berkembang dengan pesatnya sejak 5-10 tahun belakangan ini,
dan pada beberapa waktu lalu muncul keinginan untuk melakukan ‘penyelidikan’
secara acak sederhana terhadap 3(tiga) pertanyaan yang muncul di dalam fikiran
saya, yaitu: siapa yang memanfaatkan jasa tersebut; dari mana asal mereka dan
berapa tarif yang harus mereka bayar untuk memperoleh jasa tersebut.
Namun pada kesempatan ini saya
mencoba untuk menguraikan apa yang menjadi penyebab dari munculnya ‘gejala’
tersebut dengan mengaitkannya kepada sistem kesehatan, karena yang menjadi
tujuan dari kedua belah pihak (masyarakat dan penyedia pelayanan) dengan
melakukan upaya tersebut adalah untuk memperoleh ‘kesehatan’ yang memang
menjadi dambaan semua orang.
Dari hasil beberapa wawancara yang
saya lakukan dengan beberapa anggota masyarakat yang sudah menggunakan ‘jasa pelayanan’
tersebut diperoleh informasi bahwa ada 3(tiga) hal utama yang merupakan unsur
ketertarikan masyarakat, yaitu: informasi tentang penyakit yang segera mereka
peroleh dan cara pengobatannya; munculnya keyakinan di dalam hati mereka bahwa ‘cara
pengobatan’ tersebut akan berhasil menyembuhkan penyakit yang sedang diderita,
dan biaya yang dibebankan selalu terjangkau, ‘tidak mahal’ dan terkadang gratis;
di sisi lain mereka mengeluhkan tentang mahalnya biaya yang harus mereka
tanggung apabila mereka pergi berobat ke praktik dokter atau ke rumah sakit,
disamping itu mereka tidak memperoleh informasi yang jelas tentang penyakit
mereka dan akhirnya mereka merasa bahwa setelah sekian lamanya berobat, penyakit
mereka tidak juga kunjung sembuh.
Kesimpulan yang dapat saya peroleh
dari kondisi dan situasi tersebut di atas adalah ternyata bahwa munculnya
gejala ‘pencarian cara pengobatan lain sebagai alternatif’ bagi penyembuhan
penyakit yang sedang diderita masyarakat adalah oleh sebab gagalnya mereka memperoleh
‘pelayanan kesehatan’ yang benar-benar menjadikan mereka ‘sehat’, atau dengan
kata lain adalah oleh sebab ‘gagalnya sistem kesehatan’ dalam hal memenuhi kebutuhan
masyarakat akan sehat.
Perlu dicatat, diingat dan dipahami
bahwa definisi ‘sehat’ menurut Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) adalah ‘keadaan sehat yang meliputi
jasmani, rohani dan ekonomi’, jadi tidak ada manfaatnya sama sekali apabila
setelah berobat, masyarakat menjadi miskin oleh karena biaya pengobatan yang
tinggi, sehingga ‘menjadi sakitlah’ ekonomi dan rohaninya?
Wallahu ‘alam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.